Monday 6 April 2015

Asal Mula Danau Batur

TUGAS II
ILMU BUDAYA DASAR
“Asal Mula Danau Batur”
Dosen : Auliya Ar Rahma
Oleh : I Gusti Agung Aditya Wikan M
1C114801 / 1KA01
Sistem Informasi
Fakultas Ilmu Komputer & Tekonologi Informasi
April 2015

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di Indonesia tumbuh berbagai cerita rakyat daerah dengan corak dan budaya yang berbeda beda. Cerita rakyat itu ada yang berupa cerita binatang (fabel), asal usul suatu tempat (legenda), dan cerita tentang makhluk halus (mite).
Cerita rakyat adalah cerita yang berkembang di suatu daerah dan dianggap sebagai karya kolektif (milik bersama) masyarakat daerah itu. Pasti kita perna mendengar cerita Malin Kundang, Si Pahit Lidah, Roro Jonggrang, Jaka Tarub, semua cerita itu termasuk dalam cerita rakyat.
Banyak manfaat yang kita akan dapatkan dengan mendengarkan cerita rakyat. Salah satunya, kita akan memperoleh pengalaman berharga dari cerita tersebut, melalui peristiwa-peristiwayang dialami tokoh-tokohnya. Di dalam cerita rakyat terkandung pesan moral yang berguna bagi pembacanya. Pesan (amanat)dalam cerita kadang diungkapkan secara langsung, tetapi kadang diungkapkan secara tidak langsung melalui tingkah laku tokoh-tokohnya.

1.2 Tujuan

1. Menjelaskan apa itu karya sastra cerita rakyat.
2. Memahami sejarah cerita rakyat Kebo Iwa.

BAB II

TINJAUAN TEORI

ASAL MULA DANAU BATUR


Kebo Iwa adalah seorang raksasa yang bertubuh besar.
Tubuhnya gendut dan doyan makan. Makin hari tubuhnya
bertambah besar. Makanannya banyak sekali. Ia suka membantu
penduduk desa membuat rumah, mengangkat batu besar dan
membuat sumur. Ia tidak minta imbalan apa-apa, hanya saja
penduduk desa harus menyediakan makanan yang cukup
untuknya.
Jika sampai dua hari Kebo Iwa tidak makan maka ia akan marah.
Jika marah ia akan mengamuk dan merusak apa saja yang ada di
depannya. Tak peduli rumah atau pura akan dirusaknya. Kebun
dan sawah juga dirusaknya.
Karena tubuhnya sangat besar, makannya pun sangat banyak.
Porsi makan Kebo Iwa sama seperti menyiapkan makanan
seratus orang. Walau penduduk desa sudah tidak membutuhkan
tenaganya, mereka harus tetap menyediakan makanan untuk
Kebo Iwa. Karena jika Kebo Iwa lapar ia akan marah dan
menghancurkan apa saja.
Hingga tibalah musim kemarau. Semua lumbung padi milik
penduduk mulai kosong. Beras dan bahan makanan lain mulai
sulit diperoleh. Setelah sekian lama, hujan tidak kunjung dating.
Penduduk mulai khawatir keadaan Kebo Iwa. Sebab, jika ia lapar
pasti akan mengamuk.
Benar saja kekhawatiran penduduk. Suatu hari Kebo Iwa merasa
lapar, tapi makanan belum siap karena persediaan penduduk desa
sudah habis. Jangankan untuk Kebo Iwa, untuk mereka makan
sendiri saja sudah tidak ada.
Kebo Iwa pun marah dan mengamuk. Ia menghancurkan
rumah-rumah milik penduduk. Pura sebagai tempat ibadah juga
tidak luput dari amukan Kebo Iwa.
Penduduk melarikan diri ke desa tetangga. Tapi Kebo Iwa terus
mengejar sambil berteriak-teriak, “Mana makanan untukku! Atau
kalian lebih suka kuhancurkan!”
Kebo Iwa semakin ganas. Ia tidak hanya menghancurkan
bangunan, tetapi juga memakan hewan-hewan ternak milik
penduduk. Para penduduk pun juga menjadi korban keganasan
Kebo Iwa.
Melihat kerusakan yang ditimbulkan Kebo Iwa maka penduduk
menjadi kesal dan marah. Mereka mengatur siasat untuk
membunuh Kebo Iwa. Mereka mengajak berdamai Kebo Iwa.
Dengan segala macam cara akhirnya mereka bisa
mengumpulkan makanan yang banyak lalu mendekati Kebo Iwa.
Pada saat itu Kebo Iwa baru saja menyantap seekor kerbau. Ia
kekenyangan dan berbaring di atas rumput.
“Hai Kebo Iwa …!” tegur Kepala Desa.
“Ada apa? Mau apa kalian mendekatiku?” tanya Kebo Iwa dengan
curiga.
“Sebenarnya kami masih membutuhkan tenagamu. Rumah-
rumah dan pura banyak yang kau hancurkan. Bagaimana kalau
kau membantu kami membangunnya kembali. Kami akan
menyediakan makanan yang banyak untukmu sehingga kau tak
kelaparan lagi,” kata Kepala Desa.
“Makanan …? Kalian akan menyediakan makanan yang enak
untukku?” mata Kebo Iwa berbinar mendengar kata makanan.
“Aku setuju … aku akan buatkan untuk kalian!”
Kebo Iwa senang, tidak curiga sedikit pun. Keesokan harinya,
Kebo Iwa mulai bekerja. Dengan waktu yang terhitung singkat,
beberapa rumah selesai dikerjakan oleh Kebo Iwa. Sementar itu,
para warga sibuk mengumpulkan batu kapur dalam jumlah bear.
Kebo Iwa merasa bingung mengapa para warga sangat banyak
mengumpulkan batu kapur. Padahal kebutuhan batu kapur untuk
rumah dan pura sudah cukup.
“Mengapa kalian mengumpulkan batu kapur begitu banyak?”
tanya Kebo Iwa.
“Ketahuilah Kebo Iwa. Setelah kamu selesai membuat rumah dan
pura milik kami, kami akan membuatkanmu rumah yang besar
dan sangat indah,” kata Kepala Desa.
Kebo Iwa sangat senang mendengarnya. Tidak ada kecurigaan
sedikit pun darinya. Ia semakin semangat membantu warga.
Hanya dalam beberapa hari, rumah-rumah dan pura milik
penduduk selesai dikerjakan. Pekerjaannya hanya tinggal
menggali sumur besar. Pekerjaan ini memakan waktu cukup
lama dan memerlukan lebih banyak tenaga. Kebo Iwa
menggunakan kedua tangannya yang besar dan kuat untuk
menggali tanah sampai dalam. Semakin hari lubang yang
dibuatnya semakin dalam. Tubuh Kebo Iwa pun semakin turun
ke bawah. Tumpukan tanah bekas galian yang berada di mulut
lubang pun semakin menggunung. Karena kelelahan, Kebo Iwa
berhenti untuk istirahat dan makan. Ia makan sangat banyak.
Karena kelelahan setelah makan ia mengantuk, ia pun tertidur
dengan mengeluarkan suara dengkuran yang sangat keras.
Suara dengkuran Kebo Iwa terdengar oleh para penduduk yang
sedang berada di atas sumur. Akhirnya, para penduduk segera
berkumpul di tempat lubang sumur tersebut. Mereka melihat
Kebo Iwa sedang tertidur pulas di dalamnya. Pada saat itulah
Kepala Desa memimpin warganya untuk melemparkan batu
kapur yang sudah mereka siapkan sebelumnya ke dalam sumur.
Karena tertidur lelap, Kebo Iwa belum tidak menyadari dirinya
dalam bahaya.
Ketika air di dalam sumur yang bercampur kapus sudah mulai
meluap dan menyumbat hidung Kebo Iwa, barulah raksasa itu
tersadar. Namun, lemparan batu kapur dari para warga semakin
banyak. Kebo Iwa tidak dapat berbuat apa-apa. Meskipun
memiliki badan sangat besar dan tenaga yang sangat kuat, ia
tidak mampu melarikan diri dari tumpukan kapur dan air sumur
yang kemudian menguburnya hidup-hidup. Kebo Iwa
menggelepar-gelepar selama beberapa saat, gerakannya
menimbulkan gempa sesaat tapi kemudian reda dan diam.
Kiranya Kebo Iwa telah tewas terkubur di dalam sumur.
Sementara itu air sumur semakin lama semakin meluap. Air
sumur itu membanjiri desa dan membentuk danau. Danau itu
kini dikenal dengan nama Danau Batur. Sedangkan timbunan
tanah yang cukup tinggi membentuk bukit menjadi sebuah
gunung dan disebut Gunung Batur.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan : Unsur instrinsik adalah unsur yang membangun cerita dari dalam. Unsur ekstrinsik adalah unsur yang berada di luar karya sastra atau cerita namun turut menentukan bentuk dan isi suatu karya/cerita.

B. Saran : Jangan bosan untuk membaca atau mendengarkan cerita rakyat, karena kita bisa mendapat banyak manfaat dari cerita tersebut.


Makna Dan Tujuan Ngaben Di Bali

TUGAS I
ILMU BUDAYA DASAR
“Makna Dan Tujuan Ngaben Di Bali”
Dosen : Auliya Ar Rahma
Oleh : I Gusti Agung Aditya Wikan M
1C114801 / 1KA01
Sistem Informasi
Fakultas Ilmu Komputer & Tekonologi Informasi
April 2015

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keragaman budaya yang dimiliki Indonesia menjadikan sebuah daya tarik tersendiri yang membedakannya dengan negara lainnya. Hal ini merupakan warisan turun temurun dari para leluhur yang memiliki begitu banyak nilai-nilai di dalamnya. Keragaman budaya yang ada di Indonesia telah melahirkan pula keragaman wujud-wujud kebudayaan. Diantaranya adalah adat istiadat, upacaraupacara adat dan juga tradisi yang masih tetap di lestarikan oleh etnik-etnik di Indonesia. Bentuk-bentuk adat istiadat dan tradisi ini meliputi upacara perkawinan, upacara adat, upacara kematian, dan masih banyak yang lainnya. Bahkan baik pada saat kelahiran salah seorang anggota keluarga maupun pada saat setelah meninggalnya salah seorang anggota keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi memang memiliki begitu banyak nilai sehingga tidak pernah terlepas dari kehidupan manusia, maka dari itu, manusia tetap melaksanakan tradisi dalam hidup dan kehidupannya, hal ini juga dikarenakan peran para leluhur yang mewariskannya dari generasi ke generasi. Berawal dari ketertarikan penulis terhadap upacara kematian pada masyarakat Bali yang menjadi tradisi yang sampai sekarang tetap dilaksanakan. Tradisi upacara kematian juga dilakukan oleh etnik lainnya, namun saat mengetahui bahwa tradisi upacara kematian ini sebagai tujuan penyucian atma (roh) fase pertama sebagai kewajiban suci umat Hindu Bali terhadap leluhurnya dengan melakukan prosesi pembakaran jenazah atau biasa disebut Ngaben, maka peneliti tertarik untuk mengetahui prosesi Ngaben yang dilaksanakan masyarakat Bali di Desa Paya Tusam Kecamatan Wampu Kabupaten Langkat. Fenomena tersebut menarik untuk dikaji, untuk melihat pelestarian etnik Bali di luar daerah asalnya dan etnik lain di desa tersebut. Pelestarian kebudayaan Bali dapat dilihat melalui kehidupan budaya atau ritual keagamaan yang mereka anut. Adaptasi etnik Bali ini dapat dilihat dari keterlibatan mereka dalam berbagai aktivitas maupun kehidupan sosial budaya pada masyarakat setempat. Adaptasi tersebut juga dapat dipahami sebagai wujud yang khas dari budaya atau ritual keagamaan etnik Bali yang mereka lestarikan di Desa Paya Tusam. Tradisi Ngaben ini tentunya memiliki arti penting bagi masyarakat Bali. Tapi apakah makna dan proses yang sama juga terjadi pada masyarakat Bali yang ada di Desa Paya Tusam. Berdasarkan hal inilah penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut, agar mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai pelaksanaan upacara kematian masyarakat Bali di Desa Paya Tusam Kecamatan Wampu Kabupaten Langkat.

1.2 Tujuan

1. Mengetahui apa itu Upacara Ngaben.
2. Mengapa orang Bali melakukan pengabenan.

BAB II

TINJAUAN TEORI

MAKNA DAN TUJUAN NGABEN DI BALI

Ngaben merupakan salah satu upacara besar di Bali. Salah satu rangkaian upacara Pitra Yadnya ini merupakan upacara untuk orang yang sudah meninggal. Ngaben adalah upacara penyucian atma (roh) fase pertama, sebagai kewajiban suci umat Hindu Bali terhadap leluhurnya, dengan melakukan prosesi pembakaran jenazah. Ngaben sendiri adalah peleburan dari ajaran Agama Hindu dengan adat kebudayaan di Bali.
Di setiap daerah di Bali adalah hal yang lazim jika urutan acara dalam tata cara pelaksanaan Ngaben akan berbeda walaupun esensi upacara tersebut sama. Ini berkaitan dengan kepercayaan adat Bali yang mengenal adanya Desa Kala Patra yang secara harfiah di terjmahkan menjadi tempat, waktu dan keadaan.
Jenasah diletakkan selayaknya sedang tidur, dan keluarga yang ditinggalkan akan senantiasa beranggapan demikian (tertidur). Di dalam Panca Yadnya, upacara ini termasuk dalam Pitra Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan untuk roh lelulur. Makna upacara Ngaben pada intinya adalah untuk mengembalikan roh leluhur (orang yang sudah meninggal) ke tempat asalnya.
Upacara Ngaben biasanya dilaksanakan oleh keluarga sanak saudara dari orang yang meninggal, sebagai wujud rasa hormat seorang anak terhadap orang tuanya. Upacara Ngaben biasanya dilakukan dengan semarak, tidak ada isak tangis, karena di Bali ada suatu keyakinan bahwa kita tidak boleh menangisi orang yang telah meninggal, karena itu dapat menghambat perjalanan sang arwah menuju tempatnya. Mereka beranggapan bahwa, memang jenasah untuk sementara waktu tidak ada, tetapi akan menjalani reinkarnasi atau menemukan pengistirahatan terakhir di Moksha (bebas dari roda kematian dan reinkarnasi).
Seperti yang tertulis tentang pitra yadnya, badan manusia terdiri dari badan kasar, badan halus dan karma. Badan kasar manusia dibentuk dari 5 unsur yang disebut Panca Maha Bhuta yaitu pertiwi (zat padat), apah (zat cair), teja (zat panas) bayu (angin) dan akasa (ruang hampa). Kelima unsur ini menyatu membentuk fisik manusia dan digerakan oleh atma (roh).
Seorang Pedanda mengatakan manusia memiliki Bayu, Sabda, Idep, dan setelah meninggal Bayu, Sabda, Idep itu dikembalikan ke Brahma, Wisnu, Siwa. Ketika manusia meninggal yang mati adalah badan kasar saja, atma-nya tidak. Jadi, Ngaben adalah proses penyucian atma/roh saat meninggalkan badan kasar.
Ada beberapa pendapat tentang asal kata ngaben. Ada yang mengatakan ngaben dari kata beya yang artinya bekal, ada juga yang mengatakan dari kata ngabu (menjadi abu).
Dalam Hindu, diyakini bahwa Dewa Brahma, disamping sebagai dewa pencipta juga adalah dewa api. Jadi, Ngaben adalah proses penyucian roh dengan menggunakan sarana api, sehingga bisa kembali ke sang pencipta yaitu Brahma. Api yang digunakan adalah api konkrit untuk membakar jenazah, dan api abstrak berupa mantra pendeta untuk mem-pralina yaitu membakar kekotoran yang melekat pada atma/roh.
Upacara Ngaben atau sering pula disebut upacara Pelebon kepada orang yang meninggal dunia, dianggap sangat penting, ramai dan semarak, karena dengan pengabenan itu keluarga dapat membebaskan arwah orang yang meninggal dari ikatan-ikatan duniawinya, menuju surga, atau menjelma kembali ke dunia melalui reinkarnasi, dan ini sangat tergantung dari karmaphala selama masih hidup.
Ngaben tidak senantiasa dilakukan dengan segera. Untuk anggota kasta yang tinggi, sangatlah wajar untuk melakukan ritual ini dalam waktu 3 hari. Tetapi untuk anggota kasta yang rendah, karena upacara ini memerlukan tenaga, biaya dan waktu yang panjang dan besar, maka hal ini sering dilakukan begitu lama setelah kematian. Jenasah terlebih dahulu dikuburkan dan kemudian, biasanya baru akan dilakukan ritual Ngaben, secara bersama-sama dalam satu kampung.
Untuk menanggung beban biaya, tenaga dan lain-lainnya, kini masyarakat sering melakukan pengabenan secara massal / bersama. Jasad orang yang meninggal sering dikebumikan terlebih dahulu sebelum biaya mencukupi, namun bagi beberapa keluarga yang mampu upacara ngaben dapat dilakukan secepatnya dengan menyimpan jasad orang yang telah meninggal di rumah, sambil menunggu waktu yang baik. Selama masa penyimpanan di rumah itu, roh orang yang meninggal menjadi tidak tenang dan selalu ingin kebebasan.
Hari baik biasanya diberikan oleh para pendeta (Pedanda), setelah melalui konsultasi dan kalender yang ada. Persiapan biasanya diambil jauh-jauh sebelum hari baik ditetapkan. Pada saat inilah keluarga, dibantu oleh masyarakat mempersiapkan sarcophagus atau “bade dan lembu” atau Wadah berbentuk vihara atau padma, sebagai symbol rumah Tuhan. Bade dan Lembu yang disiapkan biasanya sangat megah, terbuat dari bambu, kayu, kertas yang beraneka warna-warni sesuai dengan golongan atau kedudukan sosial ekonomi keluarga bersangkutan. “Bade dan Lembu” ini merupakan tempat mayat yang akan dilaksanakan Ngaben.
Prosesi ngaben dilakukan dengan berbagai proses upacara dan sarana upakara berupa sajen dan kelengkapannya, sebagai simbol-simbol seperti halnya ritual lain yang sering dilakukan umat Hindu Bali. Ngaben dilakukan untuk manusia yang meninggal dan masih ada jenazahnya, juga manusia meninggal yang tidak ada jenazahnya seperti orang tewas terseret arus laut dan jenazah yang tidak diketemukan, kecelakaan pesawat yang jenazahnya sudah hangus terbakar, atau seperti saat kasus bom Bali 1, dimana beberapa jenazah tidak bisa dikenali karena sudah terpotong-potong atau jadi abu akibat ledakan.
Untuk prosesi ngaben yang jenazahnya tidak ada dilakukan dengan membuat simbol dan mengambil sekepal tanah dilokasi meninggalnya, kemudian dibakar. Banyak tahap yang dilakukan dalam ngaben. Dimulai dari memandikan jenazah, ngajum, pembakaran dan nyekah. Setiap tahap ini memakai sarana banten (sesajen) yang berbeda-beda. Ketika ada yang meninggal, keluarganya akan menghadap ke pendeta untuk menanyakan kapan ada hari baik untuk melaksanakan ngaben. Biasanya akan diberikan waktu yang tidak lebih dari 7 hari sejak hari meninggalnya.
Setelah didapat hari H (pembakaran jenazah), pada pagi hari ketika upacara ini akan dilaksanakan, maka pihak keluarga dan sanak saudara serta masyarakat akan berkumpul mempersiapkan upacara ritual pertama yaitu nyiramin layon(memandikan jenazah). Jenazah akan dimandikan oleh kalangan brahmana sebagai kelompok yang karena status sosialnya mempunyai kewajiban untuk itu atau orang yang dianggap paling tua di dalam masyarakat. Selesai memandikan, jenazah akan dikenakan pakaian adat Bali lengkap, seperti layaknya orang yang masih hidup.
Selanjutnya adalah prosesi ngajum, yaitu prosesi melepaskan roh dengan membuat simbol-simbol menggunakan kain bergambar unsur-unsur penyucian roh.
Sebelum acara puncak dilaksanakan, seluruh keluarga akan memberikan penghormatan terakhir dan memberikan doa semoga arwah yang diupacarai memperoleh tempat yang baik. Setelah semuanya siap, maka mayat akan ditempatkan di “Bade” tempat jenazah yang akan diusung ke kuburan, secara beramai-ramai ke tempat upacara Ngaben, diiringi dengan “gamelan”, “kidung suci”, dan diikuti seluruh keluarga dan masyarakat. Bentuk lembu atau vihara ini, dibawa ke tempat kremasi melalui suatu prosesi. Prosesi ini tidak berjalan pada satu jalan lurus. Hal ini guna mengacaukan roh jahat dan menjauhkannya dari jenasah.
Di depan “Bade” terdapat kain putih yang panjang yang bermakna sebagai pembuka jalan sang arwah menuju tempat asalnya. Di setiap pertigaan atau perempatan maka “Bade” akan diputar sebanyak 3 kali.
Sesampainya di kuburan, biasanya dilakukan di kuburan desa setempat, upacara Ngaben dilaksanakan dengan meletakkan mayat ke pemalungan (“lembu”), yaitu tempat membakar jenazah yang terbuat dari tumpukan batang pohon pisang, yang telah disiapkan, yang sebelumnya diawali dengan upacara-upacara lainnya dan doa mantra dari Ida Pedanda, kemudian “Lembu” dibakar sampai menjadi Abu. Abu ini kemudian dibuang ke Laut atau sungai yang dianggap suci.
Disini kembali dilakukan upacara penyucian roh berupa pralina oleh pendeta atau orang yang dianggap mampu untuk itu (biasanya dari clan brahmana). Pralina adalah pembakaran dengan api abstrak berupa mantra peleburan kekotoran atma yang melekat ditubuh. Kemudian baru dilakukan pembakaran dengann menggunakan api kongkrit. Jaman sekarang sudah tidak menggunakan kayu bakar lagi, tapi memakai api dari kompor minyak tanah yang menggunakan angin.
Umumnya proses pembakaran dari jenazah yang utuh menjadi abu memerlukan waktu 1 jam. Abu ini kemudian dikumpulkan dalam buah kelapa gading untuk dirangkai menjadi sekah. Sekah ini yang dilarung ke laut, karena laut adalah simbol dari alam semesta dan sekaligus pintu menuju ke rumah Tuhan.
Setelah upacara ini, keluarga dapat tenang mendoakan leluhur dari tempat suci dan pura masing-masing. Inilah yang menyebabkan ikatan keluarga di Bali sangat kuat, karena mereka selalu ingat dan menghormati lelulur dan juga orang tuanya. Terdapat kepercayaan bahwa roh leluhur yang mengalami reinkarnasi akan kembali dalam lingkaran keluarga lagi, jadi biasanya seorang cucu merupakan reinkarnasi dari orang tuanya.
Demikian secara singkat rangkaian prosesi ngaben di Bali. Ada catatan lain yaitu untuk bayi yang berumur dibawah 42 hari dan atau belum tanggal gigi, jenazahnya harus dikubur. Ngabennya dilakukan mengikuti ngaben yang akan ada jika ada keluarganya yang meninggal.
Status kelahiran kembali roh orang yang meninggal dunia, berhubungan erat dengan karma dan perbuatan serta tingkah laku selama hidup sebelumnya. Secara umum, orang Bali merasakan bahwa roh yang lahir kembali ke dunia hanya bisa di dalam lingkaran keluarga yang ada hubungan darah dengannya. Lingkaran hidup mati bagi orang Bali adalah karena hubungannya dengan leluhurnya.
Setiap orang tahu bahwa di satu saat nanti dia akan menjadi leluhur juga, yang di dalam perjalannya di dunia lain harus dipercepat dan mendapatkan perhatian cukup bila sewaktu-waktu nanti kembali menjelma ke Pulau yang dicintainya, Pulau Bali.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan : Ngaben secara umum didefinisikan sebagai upacara pembakaran mayat. Dalam bahasa lain di Bali, yang berkonotasi halus, Ngaben itu disebut Palebon, yang berasal dari lebu yang artinya prathiwi atau tanah. Palebon artinya menjadikan prathiwi (abu). Untuk menjadikan tanah itu ada dua cara yaitu dengan cara membakar dan menanam ke dalam tanah. Namun cara membakar adalah yang paling cepat.


B.  Saran : Upacara Ngaben pada masyarakat Bali berkaitan dengan masalah budaya kiranya dapat memberi banyak pelajaran, khususnya mengenai budaya Bali. Dari apa yang telah disampaikan masih banyak hal yang dapat di gali dan di kaji lebih lanjut. Berbagai pengkajian lain diharapkan dapat membantu memelihara dan melestarikan nilai-nilai budaya Bali dan sekaligus sebagai upaya pencarian jati diri masyarakat Bali di Desa Paya Tusam pada khususnya dan jati diri bangsa Indonesia pada umumnya.